Diarywi2n's Blog

Snellen Chart

Posted on: April 9, 2011


PEMERIKSAAN TAJAM PENGLIHATAN

PROSEDUR PENGGUNAAN SNELLEN CHART

  1. Klien berdiri 5 meter dari kartu, menutup mata kiri dan menggunakan mati kanan untuk membaca baris yang tampak paling jelas
  2. Jika klien dapat membacanya dnegan kurat, perawat meminta klien membaca baris dibawahnya
  3. Tahapan ini diulang hingga kien tidak dapat mengidentifikasi secara benar lebih dari separuh jumlah karakter daam sati baris
  4. Ulang prosedur diatas untuk mata yang lain
  5. Hasil yang dicatat merupakan perbandingan antara apa yang dapat dibaca klien pada jarak 5 meter dan jarak yang dibutuhkan oleh orang normal untuk membaca baris yang sama. Misalnya 5/20 artinya bahwa klien dapat membaca dari jarak 5 meter dari kartu apa yang “mata normal dapat membacanya pada jarak 20 meter. Jika diperlukan pengukuran tepat dari kejaman, dapat diperjelas dengan mencatat jumlah karakter karena klien gagal untuk mengidentifikasinya pada baris tersebut seperti 5/20

Klien menggunaka lensa koreksi untuk membaca, uji dilkaukan dengan tetap menggunakan kacamata. Pencatatan ketajaman menunjukkkan apakah klien menggunakan lensa koreksi. ‘sc menunjukkkan tidak menggunakan kacamata selama uji dan ‘cc menunjukkan dengan kacamata koreksi. Pada klien yang menggunakan kacamat minus atau plus jika pada saat diperiksa klien menggunakan kacamata, maka pendokumentasiannya VOD cc = ….. atau VOS cc = … dan  jika saat diperiksa klien melepas kacamatanya maka ditulis VOD sc =

PROSEDUR MENGHITUNG JARI

  1. Perawat menyuruh klien untuk menutup OS dan menunjukkan jari di depan klien secara acak
  2. Klien ditanya berapa jumlah jari yang terlihat. Prosedur ini diulang 5 kali, jika klien dapat mengidentifikasi secara benar 3 kali dari 5 kali, ketajaman dicatat sebagai”hitung jari pada jarak 1 meter” atau jarak terjauh tempat klien dapat menghitung jari
  3. Jika klien dapat menghitung atau melihat jari pemeriksa dari jarak 6 m, visusnya adalah 6/60, dari jarak 5 m adalah 5/60 dan seterusnya sampai jarak 1 m
  4. Prosedur tersebut diulang untuk mata yang lain

PROSEDUR GERAKAN TANGAN

  1. Perawat berdiri kurang lebih ½ – 1 meter di depan klien
  2. Satu mata klien ditutup. Sinar diarahkan pada tangan perawat
  3. Perawat menunjukkan tiga kemungkinan perintah ketika tangan dapat digerakkan selama uji ini. Perintah tersebut adalah tegak berhenti , kanan kiri atau atas bawah. Perawat menggerakkan tangan secara perlahan 91 dtk/gerakan) dan tanyakan klien “ kemana arah tangan saya sekarang?
  4. Prosedur ini diulang minimal 5 kali. Jika klien mengidentifikasi secara benar 3 kali dari 5 kali perintah, ketajaman atau visus dicatat 1/300 atau jaraka terjauh klien dapat mengidentifikasi mayoritas perintah pergerakan

PROSEDUR PROYEKSI / PERSEPSI CAHAYA

  1. Perawat meminta klien menutup salah satu mata dalam ruang gelap dari jarak kira-kira ½ – 1 m
  2. Perawat mengarahkan sinar dari oftalmoskop indirek atau senter pada mata yang tidak ditutup selama 1 -2 detik. Klien diinstruksikan untuk mengatakan ‘hidup”saat sinar diterima dan “mati “saat sinar padam
  3. Prosedur ini diulang 5 kali. Jika klien mengidentifikasi secara benar ada atau tidak adanya cahaya 3 kali atau lebih, acuity dicatat sebagai LP + (positif) dan visusnya 1/∞. Klien yang tidak dapat mendeteksi stimulus tersebut dengan benar mempunyai acuity yang disebut sebagai no light perception (NLP)

PROSEDUR UJI KONFRONTASI

  1. Perawat dank lien duduk berhadapan pada jarak ½ meter. Klien dianjurkan untuk terus melihat mata perawat selama uji tersebut
  2. Perawat menutup OD nya sementara klien menutup OSnya sehingga keduanya mempunyai lapang pandang yang kurang lebih sama
  3. Perawat menggerakkan jari atau objek dari daerah yang tidak terlihat menuju garis pandang klien.
  4. Ketika  klien melihat objek memasuki garis pandang. Klien mengatakannya pada perawat. Demikian juga untuk mata yang lain. Uji ini diasumsikan bahwa perawat/penguji mempunyai pandangan perifer normal.
  5. Saat menguji lapang pandang, perawat harus mencatat bahwa klien sadar, tidak dalam pengobatan, dapat mengikuti perintah dan dapat berfokus sesuai perintah. Sedasi dapat mempengaruhi kemampuan klien untuk berespons dan kecepatan respons klien. Gangguan pada area lain dapat menghasilkan pengukuran yang tidak akurat
  6. Hasil uji dicatat sebagai “lapang konfrontasi penuh dengan atau tanpa koreksi”. Jika persepsi visual menurun, perawat mencatat kuadran mana yang terpengaruh, mis. “lapang konfrontasi menurun pada kuadran superior, inferior, temporal atau nasal.” Hasil lapang pandang biasanya lebih besar secara temporal (90°) daripada secara nasal (60°), lapang pandang atas (50°), sedangkan bawah adalah 70°

(dikutip dari buku asuhan keperawatan klien gangguan mata, Ns. Indriana)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: