Diarywi2n's Blog

Askep pasien dengan katarak

Posted on: Oktober 6, 2011


Konsep katarak dan asuhan keperawatan pasien dengan katarak

(Modul Kuliah Keperawatan Medikal Bedah)

  1. Review  Gambar Anatomi Mata

 

  1. Anatomi lensa mata

 

ü  Struktur globular yang transparan, terletak di belakang iris, di depan badan  kaca.

ü  Bagian depan ditutupi kapsul anterior dan belakang oleh kapsul posterior

ü  Di bagian dalam kapsul terdapat korteks dan nukleus

ü  Posisi lensa tergantung pada zonula zinn yang melekat pada prosesus siliaris

ü  Terdiri dari capsul, nukleus, korteks

ü  65% air, 34% protein, mineral 1%

  1. Fungsi lensa mata

ü  Refraksi

u/ memfokuskan sinar ke bintik kuning

ü  Akomodasi

Mencembung dan mencekung lensa u/ melihat obyek dekat dan jauh

 

  1. Definisi Katarak

ü Opasitas/ kekeruhan pada  lensa kristalina

ü Seharusnya normalnya bening dan transparan

ü Katarak menyebabkan penderita tidak bisa melihat dengan jelas karena dengan lensa yang keruh cahaya sulit mencapai retina dan akan menghasilkan bayangan yang kabur pada retina

ü Jumlah dan bentuk kekeruhan pada lensa bervariasi

ü Katarak terjadi perlahan-lahan sehingga penglihatan penderita terganggu berangsur-angsur

ü Katarak tidak menular dari satu mata ke mata yang lain, namun dapat terjadi pada kedua mata pada saat yang bersamaan

 

  1. Perubahan lensa pada pasien katarak

 

  1. Etiologi

ü  Biasanya terjadi akibat proses penuaan tapi dapat timbul  pada saat kelahiran (katarak kongenital)

ü  Dapat juga berhubungan dgn trauma mata tajam maupun tumpul, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, penyakit sistemis: DM, hipoparatiroidisme, pemajanan radiasi, pemajanan yang lama sinar UV, kelainan mata lain:uveitis anterior

ü  Paparan sinar matahari atau ultra violet secara berlebihan

 

  1. Patofisiologi

ü  Nukleus mengalami perubahan warna menjadi coklat kekuningan dg bertambahnya usia

ü  Perubahan fisik (perubahan pd serabut halus multiple (zunula) yg memanjang dari badan silier kesekitar daerah lensa) à hilangnya tranparansi lensa

ü  Perubahan kimia dlm protein lensa à koagulasi à mengabutkan pandangan

ü  Terputusnya protein lensa disertai influks air kedalam lensa

ü  Usia meningkat à Penurunan enzim menurun à degenerasi pd lensa

  1. Manifestasi Klinis

ü    Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek

ü    Peka terhadap sinar atau cahaya

ü    Dapat melihat dobel pada satu mata

ü    Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca

ü    Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

 

 

  1. Penegakan Diagnostik

ü    Data subyektif

  • Visus menurun
  • Silau

ü    Data objektif

  1. Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil
  2. Bila lensa sudah opak à cahaya terpendar tdk pada retina à pandangan kabur atau redup
  3. Silau dan susah melihat pd malam hari
  4. Pupil tampak kekuningan, abu-abu dan putih.

 

  1. Klasifikasi

Katarak dapat diklasifikasikan dalam golongan berikut :

  1. Katarak perkembangan (developmental) dan degeneratif.
  2. Katarak kongenital, juvenil, dan senil.
  3. Katarak komplikata.
  4. Katarak traumatik.

Berdasarkan usia pasien, katarak dapat di bagi dalam :

  1. katarak kongenital, katarak yang terlihat pada usia di bawah 1 tahun
  2. katarak juvenil, katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun dan di bawah 40 tahun
  3. katarak presenil, yaitu katarak sesudah usia 30 – 40  tahun
  4. katarak senil, yaitu katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun

 

  1. Penjelasan katarak congenital
  • Katarak kongenital merupakan kekeruhan lensa yang didapatkan sejak lahir, dan terjadi akibat gangguan perkembangan embrio intrauterin. Biasanya kelainan ini tidak meluas mengenai seluruh lensa
  • Letak kekeruhan sangat tergantung pada saat terjadinya gangguan metabolisme serat lensa
  • Katarak kongenital yang terjadi sejak perkembangan serat lensa terlihat segera setelah bayi Iahir sampai berusia 1 tahun
  • Katarak ini terjadi karena gangguan metabolisme serat-serat lensa pada saat pembentukan serat lensa akibat infeksi virus atau gangguan metabolisme jaringan lensa pada saat bayi masih di dalam kandungan, dan gangguan metabolisme oksigen.
  • Pada bayi dengan katarak kongenital akan terlihat bercak putih di depan pupil yang disebut sebagai leukokoria (pupil berwarna putih).
  • Setiap bayi dengan leukokoria sebaiknya dipikirkan diagnosis bandingnya seperti retinoblastorrma, endoftalmitis, fibroplasi retrolental, hiperplastik vitreus primer, dan miopia tinggi di samping katarak sendiri
  • Katarak kongenital merupakan katarak perkembangan sehingga sel-sel atau serat lensa masih muda dan berkonsistensi cair.
  • Umumnya tindakan bedah dilakukan dengan disisio lentis atau ekstraksi linear.
  • Pasca ­bedah pasien memerlukan koreksi untuk kelainan refraksi matanya yang telah menjadi afakia

 

  1. Katarak Juvenile

ü  Katarak juvenil yang terlihat setelah usia 1 tahun à lanjutan katarak kongenital yang makin nyata,

ü  Penyulit penyakit lain, katarak komplikata, yang dapat terjadi akibat penyakit lokal pada satu mata, seperti akibat uveitis anterior. glaukoma, ablasi retina, miopia tinggi, ftisis bulbi, yang mengenai satu mata, penyakit sistemik, seperti diabetes, hipoparatiroid, dan akibat trauma tumpul.

  • Biasanya katarak juvenil ini merupakan katarak yang didapat dan banyak dipengaruhi oleh beberapa factor

 

  1. Katarak Senile

ü  Katarak senil biasanya mulai pada usia 40 tahun, kecuali bila disertai dengan penyakit lainnya seperti diabetes melitus yang akan terjadi lebih cepat.

ü  Kedua mata dapat terlihat dengan derajat kekeruhan yang sama ataupun berbeda.

ü  Proses degenerasi pada lensa dapat terlihat pada beberapa stadium katarak senil.

ü  Pada katarak senil akan terjadi degenerasi lensa secara perlahan-lahan.

ü  Tajam penglihatan akan menurun secara berangsur-angsur.

ü  Katarak senil merupakan katarak yang terjadi akibat terjadinya degenerasi serat lensa karena proses penuaan

  1. Stadium Katarak  Senile

ü  Stadium insipien,

  1. di mana mulai timbul katarak akibat proses degenerasi lensa.
  2. Kekeruhan lensa berbentuk bercak-bercak kekeruhan yang tidak teratur.
  3. Pasien akan mengeluh gangguan penglihatan seperti melihat ganda dengan satu matanya.
  4. Pada stadium ini., proses degenerasi belum menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga akan terlihat bilik mata depan dengan kedalaman yang normal, iris dalam posisi biasa disertai dengan kekeruhan ringan pada lensa.
  5. Tajam penglihatan pasien belum terganggu.

ü   Stadium imatur,

  1. lensa yang degeneratif mulai menyerap cairan mata ke dalam lensa sehingga lensa menjadi cembung.
  2. terjadi pembengkakan lensa yang disebut sebagai katarak intumesen.
  3. terjadi miopisasi akibat lensa mata menjadi cembung à pasien menyatakan tidak perlu kacamata sewaktu membaca dekat.
  4. Akibat lensa yang bengkak, iris terdorong ke depan, bilik mata dangkal dan sudut bilik mata akan sempit atau tertutup.
  5. Pada stadium ini dapat terjadi glaukoma sekunder.
  6. Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau shadow test akan terlihat bayangan iris pada lensa. Uji bayangan iris positif

ü   Stadium matur

a)      merupakan proses degenerasi lanjut lensa.

b)      terjadi kekeruhan seluruh lensa.

c)       Tekanan cairan di dalam lensa sudah dalam keadaan seimbang dengan cairan dalam mata sehingga ukuran lensa akan menjadi normal kembali.

d)      Pada pemeriksaan terlihat iris dalam posisi normal, bilik mata depan normal, sudut bilik mata depan terbuka normal, uji bayangan iris negatif.

e)      Tajam penglihatan sangat menurun dan dapat hanya tinggal proyeksi sinar positif

ü  Stadium hipermatur

  1. terjadi proses degenerasi lanjut lensa dan korteks lensa dapat mencair sehingga nukleus lensa tenggelam dalam korteks lensa (katarak Morgagni).
  2. Pada stadium ini jadi juga degenerasi kapsul lensa sehingga bahan lensa ataupun korteks yang cair keluar dan masuk ke dalam bilik mata depan.
  3. Pada stadium matur akan terlihat lensa yang lebih kecil daripada normal, yang akan mengakibatkan iris tremulans, dan bilik mata depan terbuka.
  4. Pada uji bayangan iris terlihat positif walaupun seluruh lensa telah keruh sehingga stadium ini disebut uji bayangan iris pseudopositif.
  5. Akibat bahan lensa keluar dari kapsul, maka akan timbul reaksi jaringan uvea berupa uveitis.
  6. Bahan lensa ini juga dapat menutup jalan keluar cairan bilik mata sehingga timbul glaukoma fakolitik.
  7. Katarak Traumatik

ü  Kekeruhan lensa dapat terjadi akibat trauma tumpul atau trauma tajam yang menembus kapsul anterior.

ü  Tindakan bedah pada katarak traumatik dilakukan setelah mata tenang akibat trauma tersebut.

ü  Bila pecahnya kapsul mengakibatkan gejala radang berat, maka dilakukan aspirasi secepatnya

  1. Katarak Komplikata

a)   Katarak komplikata terjadi akibat gangguan keseimbangan susunan sel lensa oleh faktor fisik atau kimiawi sehingga terjadi gangguan kejernihan lensa.

b)   Katarak komplikata dapat terjadi akibat iridosiklitis, koroiditis, miopia tinggi, ablasio retina, dan glaukoma.

c)    Katarak komplikata dapat terjadi akibat kelainan sistemik yang akan mengenai kedua mata atau kelainan lokal yang akan mengenai satu mata

 

  1. Katarak Sekunder
  • Pada tindakan bedah lensa dimana terjadi reaksi radang yang berakhir dengan terbentuknya jaringan fibrosis sisa lensa yang tertinggal maka keadaan ini disebut sebagai katarak sekunder.
  • Tindakan bedah yang dapat menimbulkan katarak sekunder adalah sisa disisio lentis, ekstraksi linear dan ekstraksi lensa ekstrakpsular.
  • Pada katarak sekunder yang menghambat masuknya sinar ke dalam bola mata atau mengakibatkan turunnya tajam penglihatan maka dilakukan disisio lentis sekunder atau kapsulotomi pada katarak sekunder tersebut
  1. Pemeriksaan Diagnostik pada mata
  • Snellen test
  • Lapang Penglihatan : penurunan mungkin karena massa tumor, karotis,  glukoma.
  • Pengukuran Tonometri : TIO (12 – 25 mmHg)
  • Pengukuran Gonioskopi membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup glukoma.
  • Tes Provokatif : menentukan adanya/ tipe glaukoma
  • Oftalmoskopi : mengkaji struktur internal okuler, atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan.
  • Darah lengkap, LED : menunjukkan anemi sistemik / infeksi.
  • EKG, kolesterol serum, lipid
  • Tes toleransi glukosa : kotrol DM

 

  1. Penatalaksanaan
  • Pencegahan sampai saat ini belum ada
  • Ada 2 macam tekhnik pembedahan katarak
    • Ekstraksi katarak intrakasuler (ICCE)
    • Ekstraksi katarak ekstrakapsuler  (ECCE) à 98 % keberhasilan
  • Fakoemulsifikasi à penemuan terbaru pd ekstrakapsuler
  • Kaca mata apakia
  • Lensa kontak
  • Implan lensa okuler (IOL)

 

  1. Koreksi afakia (mata tanpa lensa)
  • Implantasi lensa intraokuler
  • Kacamata + 10 D
  • Lensa kontak

 

  1. Ekstraksi katarak intrakapsular

Memutuskan zonula Zinn dengan menarik lensa à lensa dapat keluar bersama-sama dengan kapsul lensa

 

  1. Ekstraksi katarak ekstrakapsular
  • Merobek kapsul anterior lensa dan mengeluarkan nukleus lensa dan korteks
  • Dilakukan jika ekstraksi tidak mungkin dilakukan ekstraksi intrakapsuler misal keadaan terdapatnya banyak sinekia posterior bekas suatu uveitis sehingga bila kapsul ditarik akan mengakibatkan penarikan kepada iris yang akan mengakibatkan perdarahan
  • Sangat dianjurkan pada katarak dengan miopia tinggi u/ mencegah mengalirnya badan kaca yang cair keluar, dengan meninggalkan kapsul posterior u/ menahannya.
  • Teknik yang sering digunakan dalam ECCE adalah fakoemulsifikasi, à jaringan dihancurkan dan debris diangkat dengan disuction

 

  1. Persiapan pembedahan / pre  operasi
  2. Informed consent
  3. Informasi rehabilitasi
  4. Cek ulang visus, pemeriksaan darah : gula darah, tekanan darah, kondisi paru2
  5. Informasikan kejadian selama/sesudah pembedahan
  6. Cukur bulu mata
  7. Anal-test
  8. Lebarkan pupil
  9. Malam 1tab. Diasepam dan pagi 1tab.Diasepam 1tab. Asetasolamid

 

  1. Macam  Rehabilitasi

Rehabilitasi 1

KACAMATA:

1.SAMPING   TERBATAS

2.PEMBESARAN 30 %

3.KOMPLIKASI (-)

4.COCOK PX.TREMOR

5. VISUS TANPA KM JELEK

Rehabilitasi 2

KONTAK LENSA:

  1. SAMPING NORMAL
  2. PEMBESARAN 11%
  3. KOMPLIKASI KORNEA KADANG
  4. TIDAK COCOK PX TREMOR

Rehabilitasi 3

—  INTRAOKULER LENSA:

                                                               

  1. Samping normal
  2. Pembesaran 0 %
  3. Komplikasi kornea (-)
  4. Visus sangat baik
  5. Cocok px tremor
  6. Tak perlu ketrampilan

 

  1. Perawatan pos operasi
  • Mata ditutup dop
  • Tidur ½ duduk
  • Tetes mata digunakan sth 6-8 jam
  • Obs terjadi nyeri
  • Dop digunakan untuk mencegah perlukaan

 

  1. Pendidikan Kesehatan pada Pasien setelah pembedahan katarak

—   Pembatasan aktivitas

Diperbolehkan

—  Menonton televisi; membaca bila perlu, tp jangan terlalu lama

—  Mengerjakan aktivitas biasa tapi dikurangi

—  Pada awal mandi waslap selanjutnya menggunakan bak mandi atau pancuran

Tidak boleh membungkuk pd wastafel atau bak mandi; condongkan sedikit kepala kebelakang saat mencuci rambut

—  Tidur dengan perisai pelindung mata logam pada malam hari; mengenakan kacamata pada siang hari

—  Ketika tidur, berbaring terlentang atau miring tidak boleh telengkup

—  Aktivitas dengan duduk

—  Mengenakan kacamata hitam untuk kenyamanan

—  Berlutut atau jongkok saat mengambil sesuatu dari lantai

Dihindari (paling tidak selama 1 minggu)

—  Tidur pd sisi yg sakit

—  Menggosok mata; menekan kelopak untuk menutup

—  Mengejan saat defekasi

—  Memakai sabun mendekati mata

—  Mengangkat benda yg lebih dari 7 Kg

—  Hubungan seks

—  Mengendarai kendaraan

—  Batuk, bersin, dan muntah

—  Menundukkan kepala sampai bawah pinggang, melipat lutut saja dan punggung tetap lurus untuk mengambil sesuatu dari lantai

 

Asuhan Keperawatan pasien dengan katarak

—  Aktifitas Istirahat

Perubahan aktifitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan.

—   Neurosensori

Gangguan penglihatan kabur/tak jelas, sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa diruang gelap.  Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi di sekitar sinar, perubahan kacamata, pengobatan tidak memperbaiki penglihatan, fotofobia ( glukoma akut ).

—  Tanda : Tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak), pupil menyempit dan merah/mata keras dan kornea berawan (glukoma darurat, peningkatan air mata.

—  Nyeri / Kenyamanan

Ketidaknyamanan ringan / mata berair. Nyeri tiba-tiba / berat menetap atau   tekanan pada atau sekitar mata, sakit kepala

 

Dx. Keperawatan yang muncul

—  Nyeri b.d trauma, peningkatan TIO, inflamasi intervensi bedah, atau pemberian tetes mata dilator

—  Resiko Infeksi luka operasi atau struktur okuler lain, ablasio retina, peninggian TIO, perforasi luka operasi

—  Potensial terhadap kurang perawatan diri yang berhubungan dengan kerusakan penglihatan

Rencana Asuhan Keperawatan

Dx. Keperawatan no 1

  • Kurangi tingkat pencahayaan: cahaya diredupkan. Diberi tirai

R/ Tingkat pencahayaan yang lebih rendah lebih nyaman setelah pembedahan

  • Dorong pasien menggunakan kaca mata hitam pada cahaya kuat

R/ Cahaya kuat menyebabkan rasa tidak nyaman setelah penggunaan tetes mata dilator

  • Lakukan kompres kalau perlu

R/ Mengurangi edema akan mengurangi nyeri

  • Kolaborasi dengan dokter pemberian obat untuk mengontrol nyeri dan TIO

R/ mengurangi nyeri

 

Dx. Keperawatan no 2

  • Pertahankan teknik aseptik, cuci tangan dengan sabun
  • Awasi dan laporkan segera adanya tanda dan gejala komplikasi, mis: perdarahan, peningkatan TIO (nyeri dahi mendadak), infeksi, nyeri tak berkurang dengan obat yang diresepkan, kilatan cahaya, perubahan atau penurunan fungsi visual, perubahan struktur mata (prolaps iris, pupil berbentuk pir, dehisensi luka), reaksi efek samping obat.
  • Berikan posisi head up 15 ° dan menghindari berbaring pada sisi yang dioperasi
  • Istruksikan pasien untuk tirah baring kemudian peningkatan aktivitas secara bertahap
  • Berikan penjelasan aktivitas yang harus dihindari : batuk, bersin, muntah, membungkuk, mengejan, mengangkat benda berat, menutup mata dengan keras, menggosok mata, menggerakkan kepala dengan cepat dan kasar
  • Kolaborasi pemberian obat antibiotik

Dx. Keperawatan no 3

—  Beri instruksi kepada pasien atau orang terdekat mengenai tanda dan gejala komplikasi yang harus dilaporka segera kepada dokter

—  Berikan instruksi lisan dan tertulis untuk pasien dan keluarga mengenai teknik yang benar dalam memberikan obat.

—  Ajari pasien dan keluarga mengenai aktifitas yang boleh untuk pasien

—  Evaluasi perlunya bantuan setelah pemulangan

 

Komplikasi pasca bedah yang harus diketahui

 

—  Peningkatan tio

—  Infeksi dgtanda:

hiperemi   meningkat

visus menurun

mengeluarkan sekret

–  perdarahan pada bmd

 

 

 

 

 

 

 

Gambar-gambar operasi katarak

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Istiqomah Indriana.(2004).Asuhan Keperawatan klien dengan gangguan mata.Jakarta: EGC

Iyas Sidarta. (2002). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Sagung Seto

PSIK FK Unair. (2006). Hand out kuliah keperawatan medical bedah. Tidak dipublikasikan

Brunner & Suddart. Keperawatan Medikal Bedah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: