Diarywi2n's Blog

Poligami di mata Fatimah-Ali

Posted on: Februari 17, 2013


Mendengar kata poligami tentunya kurang nyaman di telinga kebanyakan perempuan karena memang kodrat wanita yang tidak ingin dimadu, walaupun juga tidak ingin di”racun”. (Maaf kalau yang ini bercanda biar tidak terlalu stress dengan kata-kata poligami). Poligami memang menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, akan tetapi dalam tulisan kali ini saya tidak membahas tentang hukum dan pro kontra poligami. Akan tetapi mengulas bagaimana kehidupan rumah tangga yang inspiratif tidak lain yaitu Rumah tangga Fatimah dan Ali ( Selain rumah tangga Rosulluloh pastinya, kalau ini mah tidak perlu diragukan lagi untuk dijadikan suri tauladan dalam kehidupan berumah tangga).  Pernah terbersit dalam fikiran saya pernahkan ada niatan Ali untuk berpoligami mengingat kata orang –orang setiap laki-laki punya keinginan untuk berpoligami, saya berusaha mencari jawaban itu sampai akhirnya saya menemukan dalam buku Balada Cinta Suci Ali-Fatimah karya Badiatur Roziqin (2008). Baginilah ceritanya..

Ali pernah berniat ingin menikah lagi. Tentang kapan peristiwa itu terjadi, tidak ada riwayat yang menerangkannya secara pasti. Sejarah hanya mencatat bahwa keinginan Ali untuk menikah lagi itu saat Fatimah masih hidup.

Tidak ada yang lebih menyakitkan hati seorang perempuan melebihi sakitnya dimadu oleh suaminya. Demikianlah yang dirasakan Fatimah setelah mendengar suaminya ingin menikah lagi dengan wanita lain. Meskipun niat Ali baik, namun Famiah tetap menolak jika ai harus dimadu dengan istri lain. Wanita yang ingin dinikahi Ali adalah anak perempuan Abul Hakam bin Hisyam, seorang tokoh musyrik yang dikenal dengan nama Abu Jahal. Abu Jahal sesungguhnya sudah meninggal dunia dalam Perang Uhud. Kemudian, setelah Islam menjadi besar dan kuat di Madinah, putri Abu Jahal itu memeluk Islam, meskipun putrinya telah memeluk Islam, tapi banyak dari kaum Muslimin yang mencemooh dan menjauhi dirinya. Ini tidak lain dikarenakan dosa dan kejahatan Abu Jahal yang terlalu banyak terhadap Islam.

Ali bin Thalib merasa kasihan melihat penderitaan yang dirasakan oleh putri dari Abu Jahal. Ia harus merasakan dosa dan kejahatan yang dilakukan ayahnya padahal menurut Islam:

 

“ …Seseorang yang berdosa, ia tidak memikul dosa orang lain….”(QS.Al-An’aam (6):164).

 

Menurut Ali, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan putri Abu Jahal selain menikahinya. Karena dengan menikahinya, pandangan kaum Muslimin akan berubah kepada putri Abu Jahal itu. Dengan maksud baik itulah, Ali tidak merasa berdosa jika harus menikah dengan perempuan lain. Oleh karena itu, Ali mengutarakan maksudnya itu kepada Fatimah. Ali sudah menduga istrinya akan marah, tetapi ia tidak menduga jika kemarahan istrinya akan sehebat yang disaksikannya sendiri.

Fatimah sedih mendengar apa yang diutarakan suami yang sangat dicintainya. Ia menangis karena tertusuk hatinya. Sementara itu, Rosullulah mendengar berita bahwa Ali akan menikah lagi. Beliau juga mengetahui bahwa putrinya merasa tersiksa dengan keinginan suaminya untuk menikah. Melihat hal itu, Rosulluloh tidak tega membiarkan putri kesayangannya dimadu dengan wanita lain. Hal ini wajar, karena Fatimah sejak kecil selalu hidup penuh penderitaan. Ketika usianya masih kanak-kanak, ia ditinggal wafat ibunya, Khadijah. Setelah itu ia harus menggantikan posisi ibunya, hingga  ia dijuluki ummu abiiha (ibu bagi ayahnya). Ketika masih kecil, Fatimah selalu bersedih saat ia melihat ayahnya mendapatkan penyiksaan dari kaum kafir Makkah.

Menurut Rosulluloh, alangkah baiknya kalau Ali menunda keinginannya untuk menikah, mengikuti jejak Rosulluloh. Beliau merasa cukup dengan istrinya Khadijah, dan baru menikah lagi setelah Khadijah Wafat. Perlu diingat dalam hal berpoligami Rosululloh tidak pernah mempoligami istri pertamanya. Kalau seorang laki-laki benar-benar mengikuti jejak Rosulluloh dalam hal poligami maka poligami yang dilakukan Rosulluloh setelah istri pertamanya wafat, bukan mempoligami istri pertamanya.

Dalam kisah itu dijelaskan Rosulluloh berangkat ke mesjid dalam keadaan marah. Sesampainya di sana, beliau naik mimbar dan berpidato di hadapan para sahabat,” sungguh keluarga Hisyam bin Mughirah (keluarga Abu Jahal) minta izin kepada saya untuk menikahkan putri mereka kepada Ali. Saya tidak mengizinkan mereka berbuat demikian. Kecuali, kalau Ali menceraikan putrid saya Fatimah lalu menikahi putri mereka. Sungguh, putriku Fatimah adalah bagian dari diriku, barang siapa membuat hati Fatimah cemas, ia mencemaskanku. Barang siapa menyakitinya, ia menyakitiku. Barang siapa yang membuatnya bahagia, ia membahagiakanku.”

Setelah mendengar pidato Rosulluloh, Ali pulang ke rumah dengan hati gelisah dan teraduk-aduk perasaannya. Ternyata, apa yang dianggapnya baik itu mendatangkan sesuatu musibah yang besar bagi dirinya, Fatimah dan Rosulluloh. Ali menyadari kekeliruannya.

Sesampaijnya di rumah, ia menemukan Fatimah dalam kesedihan. Ali kemudian mendekatinya, duduk disampingnya. Ali diam membisu, Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Kemudian Ali memberanikan diri untuk berkata kepada Fatimah,” Fatimah, saya telah berbuat salah. Saya tidak mengindahkan apa yang menjadi hakmu. Saya percaya engkau orang yang pemaaf dan suka mengampuni kesalahan orang lain.”

Fatimah masih diam, menoleh juga tidak. Ketika itu hari telah petang. Tidak lama lagi akan datang malam. Setelah sholat magrib, Ali mendekati istrinya lagi dan mengulangi lagi permintaan maafnya. Dengan suara terputus-putus dan isakan tangis, Fatimah berkata, “ Alloh mengampuni Anda, Abul Hasan.”

Mendengar itu, Ali mendekari istrinya dengan lemah lembut. Ali kemudian bercerita bahwa hatinya hancur setelah mendengarkan Rosulluloh berpidato, yang isinya bahwa beliau tidak ridho jika putrid Rosulluloh dengan anak musuh Islam. Ali juga bercerita bahwa ayahnya berkata bahwa jika ada orang yang menyakiti Fatimah, ia menyakiti Rosulluloh. Barang siapa membuatnya marah, ia telah membuat marah Rosulluloh.

Air mata Fatimah berlinang karena terharu. Fatimah merasakan betapa besar kasih sayang dan perhatian yang diberikan ayahnya kepada putrinya. Fatimah merasa terharu atas ketegasan sikap ayahnya. Setelah itu, Fatimah berdiri dan pergi untuk melakukan sholat. Akhirnya, mendung yang menggelayuti hati Fatimah sirnalah sudah. Kebahagiaan kembali terpancar di wajahnya. Bahkan, kebahagiaan itu lebih besar dirasakannya setelah adanya peristiwa itu.

Alkisah, Sampai Fatimah meninggal, Ali tidak pernah menikah lagi sampai dia meninggal.

 

“Bila Fatimah tidak diciptakan.Ali tidak akan mempunyai isteri. Bia Ali tidak diciptakan, maka Fatimah tidak akan memiliki pasangan.”

 

(Ayin, 2013).

4 Tanggapan to "Poligami di mata Fatimah-Ali"

Hi there, i read your blog occasionally and i own a
similar one and i was just wondering if you get a lot of
spam remarks? If so how do you protect against it, any plugin or anything you can
recommend? I get so much lately it’s driving me insane so any help is very much appreciated.

thank’s for your attention to my blog. Actually i don’t have any protected to my blog, and i don’t get many spam to my article.So, i’m sorry i can’t help you

Asslmkm wrwb

Poligami VS fakta demografi saat ini….. poligami meningkat…bujang lapuk meningkat

http://sosbud.kompasiana.com/2013/05/15/makan-tuhh-poligami-vs-fakta-560618.html

Syukron

terima kasih,,, sekarang ana memiliki alasan untuk menolak di poligami… tapi bukan berarti ana menentang poligami.. hanya saja tidak sanggup di pligami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: